Kinerja Bank Nagari Tertekan, Pemegang Saham Diminta Perkuat Pengawasan dan Tata Kelola

0
65

Laba menurun, risiko kredit meningkat, dan kebijakan internal berdampak pada pegawai. Stabilitas BPD strategis Sumbar menjadi perhatian publik.


Padang/bhayangkara utama— Kinerja BPD Bank Nagari sepanjang 2025 menunjukkan tekanan yang memerlukan perhatian serius seluruh pemangku kepentingan. Berdasarkan data yang diperoleh redaksi Bhayangkara Utama, laba bersih bank pada akhir 2025 tercatat sekitar Rp490 miliar, menurun dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Penurunan laba tersebut terjadi di tengah melemahnya pertumbuhan kredit. Total kredit Bank Nagari mengalami penurunan dari Rp25,550 triliun pada 2024 menjadi sekitar Rp25,265 triliun pada 2025. Kondisi ini memperlihatkan tantangan bank dalam menjaga fungsi intermediasi di tengah dinamika ekonomi.


Pada sisi kualitas aset, rasio Non Performing Loan (NPL) tercatat meningkat dari 1,85 persen menjadi 2,38 persen, dengan nominal naik menjadi Rp604,544 miliar. Kenaikan ini menjadi indikator penting bagi manajemen dan pemegang saham untuk memperkuat manajemen risiko.

Perhatian juga tertuju pada kebijakan internal, termasuk penundaan pembayaran uang akhir tahun (UAT) kepada 1.836 pegawai senilai sekitar Rp80 miliar. Kebijakan tersebut dinilai berdampak pada kesejahteraan pegawai dan iklim kerja di internal perusahaan.
Belum adanya penjelasan terbuka mengenai penyesuaian remunerasi Direksi di tengah penurunan laba turut memunculkan persepsi ketimpangan.

Sejumlah pengamat menilai hal ini perlu dikomunikasikan secara transparan untuk menjaga kepercayaan internal dan publik.
Selain itu, isu terkait penguatan fungsi kepatuhan dan tata kelola kembali menjadi perhatian, termasuk evaluasi penempatan pejabat strategis dan konsistensi penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Peran Strategis Pemegang Saham
Sebagai Bank Pembangunan Daerah yang dimiliki pemerintah provinsi serta kabupaten dan kota, Bank Nagari memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan dan menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Oleh karena itu, pemegang saham diharapkan memperkuat fungsi pengawasan, evaluasi kinerja Direksi dan Komisaris, serta memastikan pengelolaan bank berjalan profesional dan berkelanjutan.

Stabilitas internal dan kepercayaan publik dinilai menjadi kunci agar Bank Nagari dapat menghadapi tantangan 2026 dan tetap menjadi institusi keuangan daerah yang sehat dan kredibel.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Bank Nagari belum menyampaikan keterangan resmi terkait evaluasi kinerja dan kebijakan internal.

(BU)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini