Tekan Dampak Pemanasan Global, Forum Asta Cita Indonesia Soroti Kesiapan Industri Beralih ke Ekonomi Hijau

0
31

BHAYANGKARA UTAMA — JAKARTA — Peralihan menuju industri ramah lingkungan membutuhkan dukungan pembiayaan, regulasi yang konsisten, dan perubahan perilaku konsumen. Ketiga aspek tersebut menjadi perhatian Forum Asta Cita Indonesia dalam mendorong sistem produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab di tengah ancaman perubahan iklim.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Asta Cita Indonesia, Hasbi, menyampaikan hal tersebut dalam pidato pembukaan Webinar Nasional Seri ke-9 Forum Asta Cita Indonesia, Sabtu (10/10/2026).

Webinar bertema Ekosistem Konsumen dan Produksi yang Bertanggung Jawab terhadap Dampak Ekologis Pemanasan Global itu menjadi forum pembahasan mengenai tantangan dan langkah strategis untuk membangun kegiatan ekonomi yang lebih memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Dalam pidatonya, Hasbi menyoroti pola ekonomi linier yang mengandalkan pengambilan sumber daya, produksi, dan pembuangan limbah. Model tersebut, menurut materi yang disampaikan, perlu ditransformasikan menuju ekonomi sirkular yang menekankan efisiensi sumber daya serta pengurangan limbah.

Perubahan ini dinilai penting karena dampak perubahan iklim dapat menjalar ke berbagai sektor, termasuk ketahanan pangan, energi, dan air, serta memengaruhi kawasan pesisir dan kesehatan masyarakat.

UMKM Menghadapi Tantangan Investasi Teknologi Hijau

Salah satu persoalan yang disoroti Forum Asta Cita Indonesia adalah kebutuhan investasi untuk mengadopsi teknologi ramah lingkungan.

Industri lokal, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), memerlukan akses pembiayaan yang memadai agar dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi dampak ekologis kegiatan usahanya.

Forum mengusulkan perluasan pembiayaan hijau yang terjangkau serta pemberian insentif bagi industri yang menerapkan prinsip ekonomi sirkular.

Selain persoalan modal, rendahnya literasi konsumen juga menjadi tantangan. Masyarakat membutuhkan informasi yang dapat dipercaya untuk membedakan produk yang memenuhi standar lingkungan dengan produk yang hanya menggunakan klaim ramah lingkungan dalam pemasaran.

Praktik greenwashing atau penyampaian klaim ramah lingkungan yang berpotensi menyesatkan konsumen turut menjadi perhatian dalam kajian Forum.

Di sisi regulasi, Forum menekankan perlunya harmonisasi kebijakan insentif dan disinsentif, termasuk instrumen pajak karbon, untuk mendorong perubahan sistem produksi menuju model yang lebih rendah emisi.

Tiga Pilar Rekomendasi

Untuk mempercepat transisi ekonomi hijau, Forum Asta Cita Indonesia menyampaikan rekomendasi yang mencakup pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Pemerintah pusat dan daerah didorong memperkuat penerapan Extended Producer Responsibility (EPR), yakni tanggung jawab produsen yang diperluas terhadap dampak produk, termasuk pengelolaan sampah pascakonsumsi sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, Forum merekomendasikan perluasan pengadaan barang dan jasa ramah lingkungan atau green procurement dalam belanja pemerintah.

Bagi dunia usaha, rekomendasi diarahkan pada penerapan audit energi secara berkala, peningkatan efisiensi sumber daya, serta pengembangan kemasan sirkular. Upaya tersebut juga diharapkan membuka peluang pekerjaan baru berbasis lingkungan atau green jobs, termasuk di sektor daur ulang.

Sementara itu, masyarakat didorong membangun pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab melalui pemilihan produk bersertifikasi ekolabel resmi dan pemilahan sampah dari rumah tangga.

Ketiga pilar tersebut menempatkan pemerintah sebagai pembentuk kebijakan, industri sebagai pelaksana perubahan produksi, dan konsumen sebagai bagian dari upaya mengurangi dampak lingkungan.

Target Jangka Pendek hingga Indonesia Emas

Forum Asta Cita Indonesia mengusulkan pelaksanaan transformasi ekonomi hijau secara bertahap.

Dalam jangka pendek, satu hingga dua tahun, agenda yang diusulkan meliputi sosialisasi standar sertifikasi hijau, peningkatan literasi konsumen, serta uji coba pengadaan ramah lingkungan di sejumlah wilayah percontohan.

Untuk jangka menengah, tiga hingga lima tahun, perhatian diarahkan pada pengurangan emisi gas rumah kaca sektor manufaktur melalui penerapan teknologi hijau dan perluasan instrumen pajak serta perdagangan karbon.

Adapun dalam jangka panjang, transformasi tersebut ditujukan untuk membangun struktur ekonomi nasional yang tangguh, mandiri, dan sirkular, sekaligus mendukung pencapaian target emisi nol bersih atau Net Zero Emission nasional.

Dalam pidato pembukaannya, Hasbi juga mengaitkan agenda konsumsi dan produksi bertanggung jawab dengan arah pembangunan nasional, khususnya penguatan ketahanan pangan, energi, dan air serta pengembangan ekonomi hijau dan hilirisasi industri.

Forum Asta Cita Indonesia menyatakan kesiapan untuk mengawal, mengkaji, dan mendorong pelaksanaan peta jalan hijau melalui kolaborasi lintas sektor.

Transformasi tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi pembangunan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan kelestarian lingkungan dan kepentingan generasi mendatang. BU

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini