Solok, BU.- Kawasan Gajah Mada, Alahan Panjang, yang dikenal sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi terbesar di Kabupaten Solok, kembali dilanda krisis air bersih. Dalam dua pekan terakhir, pasokan air PDAM di kawasan tersebut dilaporkan mati hampir setiap hari, memicu keluhan luas dari masyarakat dan pelaku usaha.
Anggota DPRD Kabupaten Solok, Hafni Hafiz Fraksi Gerindra, menilai kondisi ini mencerminkan lemahnya profesionalitas dan manajemen pelayanan PDAM Kabupaten Solok.
“Dalam empat bulan terakhir sudah tiga kali air mati. Untuk gangguan pada November dan Desember masih bisa dipahami karena adanya pengerjaan jalan Taratak Galundi–Alahan Panjang yang berdampak pada jaringan pipa. Namun yang terjadi dua minggu terakhir ini sangat sulit diterima” ujar Hafni Hafiz.

Hafni Hafiz tokoh selatan yang gigih memperjuangkan hak masyarakat kabupaten solok
Menurutnya, kawasan Gajah Mada merupakan wilayah strategis dengan perputaran ekonomi tinggi. Hampir seluruh ruko di sepanjang jalan provinsi Alahan Panjang–Solok via Kubang Duo terisi penuh, dengan aktivitas ekonomi berlangsung dari pagi hingga malam.
“Ini pusat ekonomi. Harga tanah bisa mencapai Rp4 juta per meter persegi. Tapi ironisnya, masyarakat justru kesulitan mendapatkan air bersih” katanya.
Akibat terhentinya pasokan air, warga terpaksa mencari alternatif dengan berbagai cara, mulai dari meminta bantuan mobil pemadam kebakaran hingga membeli air bersih dari mobil tangki secara mandiri.
Hafni mengakui bahwa petugas PDAM Unit Alahan Panjang terlihat melakukan perbaikan di lapangan. Namun ia menilai jumlah personel dan peralatan yang dikerahkan jauh dari memadai.
“Sudah 12 hari, ada lima titik di sepanjang jalan provinsi yang digali. Tapi penyebab utama belum juga ditemukan. Padahal estimasi jarak kerusakan pipa paling jauh sekitar 300 meter. Apakah perbaikan sepanjang itu harus memakan waktu berminggu-minggu?” tegasnya.
Lebih lanjut, Hafni hafiz mengungkapkan fakta mengejutkan yang terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Kabupaten Solok. Saat itu, PDAM disebut tidak memiliki peta jaringan pipa untuk kawasan Gajah Mada.
“Tanpa peta jaringan, wajar jika penggalian dilakukan di banyak titik tapi tidak menemukan solusi. Ini menunjukkan lemahnya perencanaan dan pengelolaan aset PDAM” ungkapnya.

Hafni Hafiz juga Selaku sekretaris DPC Gerindra Kabupaten Solok
Ia menilai lambannya penanganan krisis air ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap pelayanan dasar pemerintah daerah, terlebih di tengah upaya cepat Bupati dan Wakil Bupati Solok dalam menyelesaikan berbagai persoalan daerah.
“Air adalah kebutuhan dasar dan sumber kehidupan. Masyarakat tidak boleh dizalimi dengan pelayanan air yang tidak pasti. Sudah saatnya dilakukan evaluasi serius terhadap manajemen PDAM Kabupaten Solok” pungkas Hafni.
Hingga berita ini diturunkan, pihak PDAM Kabupaten Solok belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti gangguan air dan target penyelesaian perbaikan jaringan di kawasan Gajah Mada.**(W1/Tim)













